Tubuh Mona gemetar hebat saat ia berusaha bangkit. Napasnya tersengal, dan kulit di sekujur tubuhnya tampak penuh luka bekas cakaran kukunya sendiri saat rasa sakit dari dalam tubuh melanda, rasanya seperti kawanan semut neraka menggigit dari bawah kulit. Namun lebih dari luka-luka itu, yang membuat wajahnya memerah bukan hanya karena rasa sakit… tapi karena kesadaran bahwa seluruh tubuhnya kini nyaris tak tertutup selembar kain pun.

Pakaian yang digunakannya sangat kuat dan ketat, tak bisa ia robek saat rasa gatal menggila, hingga akhirnya dengan tenaga sisa dan penuh kepanikan, ia melepaskannya satu per satu, mencampakkannya begitu saja, demi sedikit kelegaan dari siksaan yang terasa membakar dari dalam. Sekarang, tubuhnya hanya dibalut sisa-sisa kain yang tergantung lemas di pinggang dan bahu.

Lynx memalingkan wajah. Tatapannya kosong menatap tembok, tak berkata sepatah kata pun. Namun bahunya yang sedikit menegang menunjukkan ketidakinginannya memperkeruh suasana, apalagi di hadapan Leena.

Leena menatap Mona dalam diam. Aura dinginnya semakin pekat, seperti kabut es yang menyelimuti ruangan.

"Kenakan kembali pakaianmu," ucapnya datar, namun tekanan dalam suaranya membuat udara di sekeliling terasa menegang. "Atau aku akan menyuruh Lynx menusukimu lagi. Kali ini, titik-titik yang akan membuatmu merasakan rasa sakit sampai ke tulang sumsum."

Mona membeku. Tubuhnya yang masih kesakitan gemetar, namun ia tak berani mengucap sepatah kata pun. Dengan cepat, ia memungut kembali pakaian yang sempat dicampakkannya, berusaha menutup tubuhnya semampu mungkin. Jemarinya masih bergetar saat mengancingkan bagian yang tersisa, namun kini, tak ada lagi niat menggoda atau berpura-pura.

Ketakutan telah menelan sisa keangkuhannya.

Namun di balik sorot matanya yang menunduk, pikirannya masih berputar. Ia telah melihat sendiri, wanita berpedang putih itu membunuh makhluk peliharaan mereka hanya dengan satu tebasan, dan pemuda asing itu… kekuatan baju tempurnya seperti ilusi, kekuatannya seperti mimpi buruk yang tak bisa ditangkal.

Jika ia terus melawan, hanya kematian yang menunggu. Tapi jika ia bisa membalikkan keadaan…

Mona mengatur napas, lalu mengangkat wajahnya pelan. Tatapannya tak lagi liar, tapi penuh perhitungan.

Aku… ingin bicara," ujarnya lirih. "Aku tak akan melawan lagi. Tapi izinkan aku menyampaikan sesuatu. Bukan sebagai musuh… tapi sebagai orang yang tahu lebih banyak dari yang kalian kira."

Ia memandang keduanya, sorotnya tajam namun jinak.

"Aku tahu di mana Isha disembunyikan. Siapa yang memberi perintah, siapa yang bermain di balik layar. Aku tahu semua itu… dan aku bersedia menukarnya, dengan satu hal, hidup."

"Kenapa aku harus mempercayaimu?" tanya Leena dengan tatapan tajam penuh selidik.

Mona tersenyum kecut. "Tenang saja. Aku tidak bodoh. Tapi kita bisa saling menguntungkan. Aku tahu kau ingin anak itu bebas. Aku juga ingin keluar dari neraka ini. Mereka akan membunuhku jika tau aku berkhianat."

Ia menatap Lynx dengan penuh kalkulasi.

"Bantu aku menghancurkan markas pusat mereka. Aku tahu jalan pintasnya. Aku tahu di mana pemimpin mereka menyembunyikan sistem kendali. Setelah itu, aku akan memberimu lokasi tempat anak itu disekap. Kau bisa menyelamatkannya."

"Kenapa aku harus membantumu?" bentak Leena.

"Aku yakin Eliza sudah melaporkan mengenai kalian yang memasang bom penghancur yang menghancurkan planet Orjeon ke pimpinan The Circuit. Itu adalah alasan kalian berada diplanet itu. Selain itu, pimpinan tidak akan melepaskan kalian karena tertarik dengan baju berteknologi tinggi yang kamu punya." Mona mulai membuat negosiasi.

Dia melanjutkan."Kalian tidak mengetahui, The Circuit ini berada dimana-mana dan jika dibiarkan, kehidupan kalian tidak akan tenang. Kebetulan pimpinan mereka sedang ada disini untuk menonton pertarungan di arena kematian. Ini kesempatan kita. Setelah itu aku akan mengantar kalian ke tempat seseorang yang bisa memperbaiki alatmu."

Namun tanpa sepengetahuan Lynx dan Mona, sebuah kamera mini memantau pergerakan mereka. Seseorang dari kejauhan mengepalkan tangan dengan marah.

Lynx yang mendengar permintaan Mona tak menjawab langsung. Ia membalikkan badannya dan menatap tajam.

"Dari kata-katanya, aku rasa The Circuit ini juga memang harus di hapuskan, karena berani menculik dan menjual orang-orang untuk dijadikan budak." Batin Lynx.

Lynx menatap Mona, "…baik. Tapi jika kau berbohong satu kali saja…"

Sebelum Lynx selesai berbicara, tubuh Mona tiba-tiba menegang. Matanya membelalak. Suara berderak muncul dari dalam dadanya, dan dalam sekejap, cahaya merah menyala di bawah kulit lehernya.

"Tunggu—!" serunya, tapi terlambat.

BOOM!

Cahaya meledak dari dalam tubuh Mona, membuatnya roboh seketika. Tubuhnya terbakar dari dalam, bukan oleh panas, tapi oleh penghancur sel otomatis, perangkat pembunuh jarak jauh yang hanya bisa diaktifkan oleh satu pihak, pemimpin mereka.

Lynx menunduk, memandangi tubuh Mona yang tergeletak tanpa nyawa.

"…Mereka tahu dia mengkhianat."

Ia mengepalkan tangan dengan marah.

Leena menatap tubuh Mona yang mulai menghitam, lalu memalingkan wajahnya pada Lynx. "Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Lynx menurunkan pandangannya, ekspresinya dingin dan tenang, namun matanya memantulkan sesuatu yang lebih dalam, tekad yang tak bisa digoyahkan. "The Circuit bukan urusan kita. Aku tak bisa mencampuri setiap dunia yang rusak oleh kerakusan manusia. Tapi… Isha adalah anak kecil yang tak tahu apa-apa, dan aku tak bisa membiarkannya jadi budak di tempat seperti ini."

Ia menghela napas pendek, lalu melanjutkan, "Selain itu, kita harus menemukan seseorang yang bisa memperbaiki mesin dimensi milik Lala. Kalau kita ingin menemukan dia… itu satu-satunya jalan."

Leena mengangguk perlahan, matanya menyipit serius. "Aku setuju. Aku tak akan tinggal diam melihat anak sekecil itu dipaksa hidup seperti budak."

Ia melangkah mendekat, berdiri sejajar dengan Lynx. "Apa langkah kita selanjutnya?"

Lynx menatap jauh ke lorong yang remang, seolah mencoba melihat ujung takdir dari jalur yang baru saja mereka tapaki.

"Kita hanya punya dua petunjuk," ucapnya datar. "The Circuit… dan arena pertarungan kematian."

Ia memutar tubuhnya, dan melangkah kearah dimana dia merasakan keramaian berada. "Kita mulai dari arena pertarungan kematian. Cari tahu di mana arena itu berada… dan berharap seseorang di sana tahu di mana Isha disembunyikan."

Leena mengangguk tanpa suara, lalu mengikuti di belakang Lynx.

***

Sebuah gelas kristal melayang di udara, lalu pecah menghantam dinding batu hitam. Cairan anggur ungu pekat memercik ke segala arah, menyisakan noda seperti darah yang mengotori lantai marmer yang semula berkilau.

Ruangan mendadak hening. Tak ada yang berani menghela napas saat suara napas berat dan parau terdengar dari singgasana tinggi di ujung ruangan.

Sosok itu duduk dengan angkuh di kursi besar yang terbuat dari baja gelap dan duri logam. Tubuhnya besar dan gemuk, seolah dunia tak cukup luas untuk menampung amarahnya. Lipatan daging di bawah dagunya bergerak setiap kali ia menggeram, dan jubah merah keunguan yang dikenakannya hampir tak mampu menutupi perutnya yang menonjol. Namun siapa pun tahu, lemaknya menyembunyikan otot keras dan kekuatan brutal yang pernah menghancurkan tengkorak musuh hanya dengan satu tamparan.

Dialah yang dikenal sebagai Krann Vos, nama yang tidak pernah disebut sembarangan. Bagi kebanyakan orang, ia hanya dipanggil Sang Pimpinan, tapi para algojo dan bawahan tahu, menyebut nama Krann Vos sembarangan bisa berarti kehilangan lidah.

"Pengkhianat rendah itu…" gumamnya, suara seraknya bergema seperti guntur yang tertahan. "Berani mencoba melawan? Apa kalian juga punya pikiran yang sama seperti dia?"

Matanya yang terlihat kecil dan menyipit di balik kelopak lemak, berkilat merah seperti bara. Ia menyentakkan tangan, membuat baki perak di dekat singgasananya melayang jatuh, menimbulkan denting nyaring. "Peliharaan algojoku dibunuh. Wanita itu lolos dari ruang tahanan. Dan Mona… orangku sendiri berani mengkhianatiku! APA YANG KALIAN LAKUKAN SELAMA INI!?"

Suara itu mengguncang ruangan. Sara dan Eliza, yang berlutut di lantai dingin, menggigil di tempat mereka. Wajah mereka menunduk dalam-dalam, tak berani menatap sosok sang pimpinan.

"K-kami… kami minta maaf, Yang Mulia… Kami tidak akan berani mengkhianati pimpinan." ucap Sara lirih.

"Kalian pikir permintaan maaf cukup untuk menebus aib ini!?" Sang pimpinan berdiri. Tubuh gemuknya bergetar, dan lantai berderak di bawah kakinya yang telanjang.

Eliza memberanikan diri angkat suara, meski suaranya gemetar. "Pimpinan… izinkan hamba memberi usul…"

Pimpinan tidak menjawab, hanya menatapnya tajam.

Eliza menelan ludah dan berkata, "Mereka… pria dan wanita itu… terlihat sangat ingin menyelamatkan Isha, anak kecil yang kami tangkap. Jika boleh hamba usul… mengapa tidak menjadikan Isha sebagai hadiah tambahan dalam arena kematian?"

Pimpinan masih membisu, matanya menyipit.

Eliza melanjutkan cepat, "Bukankah kita ingin menangkap mereka untuk bertarung. Jika mereka ingin menyelamatkan anak itu, mereka pasti akan ikut bertarung seperti keinginan kita. Itu akan menarik perhatian lebih banyak penonton. Apalagi wanita itu cukup kuat, dan pria itu… walau pakaiannya berteknologi tinggi, tetap terlihat tak sebanding dengan Sang Penghancur, urutan kelima dari para petarung terkuat kita."

Sara segera menimpali, "Benar, Yang Mulia. Dengan kekuatan seperti itu, mereka akan menjadi daya tarik besar. Orang-orang akan berbondong-bondong menyaksikan. Dan kita… bisa melihat apa batas kemampuan mereka. Dengan begini, kita akan mendapatkan banyak keuntungan."

Melihat pimpinan masih diam, Sara melanjutkan, "saat mereka kalah, pakaian pria itu bisa kita ambil untuk dipelajari dan kita perbanyak untuk para prajurit kita, sehingga keinginan pimpinan untuk memiliki prajurit terkuat akan tercapai."

Hening sejenak. Lalu tawa berat menggelegar dari dada sang pimpinan. Jubahnya berguncang, dan suara tawanya seperti gendang besar yang dipukul dari dalam gua.

"Hahaha… Menarik. Sangat menarik…"

Ia menatap keduanya, matanya menyala dengan kegembiraan kejam.

"Jika mereka ingin bermain, maka biarkan kita tentukan panggungnya."

Ia berjalan perlahan, langkahnya berat namun mantap. "Siapkan pengumuman. Isha dijadikan hadiah utama. Pastikan mereka mendengarnya. Pastikan… mereka datang."

Kemudian ia menunduk ke arah Eliza dan Sara. Wajahnya dekat, napasnya berat dan berbau anggur busuk.

"Dan kalian berdua… jika rencana ini gagal… bukan hanya lidah yang akan kupotong."

Sara dan Eliza segera bersujud, wajah mereka mencium lantai.

"Terima kasih atas kemurahan hati pimpinan… kami tidak akan mengecewakan…"

Pimpinan The Circuit berbalik menuju singgasananya, dan sembari duduk, ia tertawa lagi, tawa rendah yang bergaung lama di ruang gelap penuh rahasia.

